Sunday, January 13, 2013

Jalan-jalan Santai di Hari Sabtu: Restoran Mbah Jingkrak

Penat dengan urusan skripsi yang tak kunjung selesai dan tertarik dengan salah satu ajakan senior CS, Sabtu kemarin (12/1) saya pun pergi makan siang di Restoran Mbah Jingkrak. Tadinya saya berniat untuk sekalian ikut ngumpul dengan senior CS tersebut, tapi ternyata begitu saya masuk ke restorannya, eh ga ketemu mbaknya :'(

Sebagai informasi, Restoran Mbah Jingkrak adalah sebuah restoran bernuansa Jawa yang menyediakan makanan khas dari Jawa Tengah. Uniknya, setiap menu yang ditawarkan, terutama menu daging memiliki nama yang berbau klenik seperti ayam grandong dan ayam rambut setan. Restoran ini sudah memiliki cabang di berbagai kota di Indonesia seperti Jakarta, Jogjakarta, dan Madiun.

Cabang yang saya kunjungi pada hari Sabtu adalah cabang Setiabudi. Terletak di Jl. Setiabudi Tengah no. 11 yang notabene masih satu daerah dengan kosan, sangat mudah bagi saya untuk mencapai restoran ini. Saya cukup naik taksi dari Pasar Festival dan mengeluarkan kocek 10ribu rupiah untuk sampai di tujuan. Yang mau berhemat bisa naik TransJakarta sampai di halte Kuningan Madya atau kopaja P-20 sampai di Wisma Bakrie 1 kemudian jalan sekitar 10 menit.

Dari depan, penampakan restorannya seperti ini:

 
Sumber: http://id.openrice.com/jakarta/restaurant/mbah-jingkrak/9442/ (saya tidak sempat memotret bagian depan restoran)

Anyway, karena sudah keburu masuk ke resto plus meneguk dua jenis free drink yang disediakan (beras kencur dan kunyit asem), akhirnya saya memutuskan untuk makan siang di restoran ini *meskipun sendirian* dan memesan makanan berikut:

1. Nasi Merah
2. Bakwan Sayur
3. Ayam Rambut Setan
4. Oseng Buncis
5. Sambal Terasi

Melihat jenis makanan di atas, sudah jelas kalau Sabtu ini saya tidak melakukan food combining (aka lagi cheating). Tadinya saya mau memesan salah satu es serut yang tertera di menu sebagai minumannya, tapi begitu ingat kalau makanan yang saya pesan sudah cukup banyak (rasanya ga sanggup kalau habis itu mesti melahap es), saya pun pesan minum teh tawar hangat saja untuk membantu menetralisir rasa pedas. Saya kemudian dipersilakan masuk ke ruangan makan khusus bagi orang-orang yang tidak merokok. Interior ruangan tersebut juga sangat kental akan nuansa Jawa, seperti yang terlihat dari foto berikut:

 Ada TV-nya! Wohoooo!


 Ups, ada replika lukisan Monalisa plus AC :p
 
Sekitar 5 menit menunggu, tak lama kemudian pesanan minuman saya pun datang. Dan saya cuma bisa terbengong menyaksikan penampakannya karena ukuran gelas yang digunakan super duper jumbo, hampir 3x gelas biasa. Saking syoknya saya sampai lupa mau motret gelasnya. *alesan*

Karena sebenarnya makanan yang ditawarkan restoran sudah jadi semua dan bahkan dipajang di bagian depan seperti prasmanan, tidak sampai 5 menit setelah minuman saya datang makanan yang saya pesan pun tiba:



Penampakan makanan yang saya pesan. Dari atas ke bawah, kiri ke kanan: bakwan sayur, ayam rambut setan, oseng-oseng buncis, nasi merah, sambel terasi.

Close-up ayam rambut setan:

Jujur saya bingung kenapa ayamnya dikasih nama ayam rambut setan. Rambut setannya mana? Sayang saya ga sempat menanyakan urusan penamaan ini kepada karyawannya. Soal rasa, satu kata: pedeeeeees. Apalagi kalau itu potongan cabe ikut dilahap. Tapi saya ga sampai jingkrak-jingkrak sih pas makannya. :p

Close-up sambal terasi:

Rasanya sedikit asin (terlalu banyak terasi mungkin?) dan teksturnya kasar (cabe memang sengaja tidak digerus sampai halus, suatu hal yang saya kurang sreg) sehingga saya tidak mengonsumsinya sampai habis.

Close-up bakwan sayur dan oseng buncis:


Ukuran bakwan sayurnya memang jumbo tapi saya kurang suka karena rasa asinnya entah kenapa tidak merata. Asin di bagian luar yang crisps, sedikit hambar di bagian tengah yang banyak tepungnya. Untuk oseng buncis saya suka sekali, rasa bumbunya pas di lidah. Cuma saya harus hati-hati makan buncisnya, takut salah makan cabe hijau yang dipotong dengan model irisan yang serupa...

Satu info tambahan yang pasti disambut suka cita oleh setiap mahasiswa kere seperti saya: krupuk di sini gratis!

Hasil jepretan tambahan:




Bukti keganasan seorang Riska:


Yak, terlepas dari kekurangan soal rasa yang saya rinci di bawah gambar close-up makanan, saya tetap bisa nggragas dalam mengonsumsinya. Hanya saja saya tidak sanggup menghabiskan nasi merahnya karena sudah terlalu kenyang.

Bagaimana dengan bill-nya? Termasuk murah atau mahal? Hmmm, berikut rincian harga makanan dan minuman yang saya beli:

1. Nasi Merah: Rp7.500,00
2. Bakwan Sayur: Rp8.000,00
3. Ayam Rambut Setan: Rp19.500,00
4. Oseng Buncis: Rp12.000,00
5. Sambal Terasi: Rp5.000,00
6. Teh Tawar Hangat: Rp6.000,00

Total harga semuanya ditambah pajak 10% adalah Rp63.800,00. Kalau dilihat satuan mungkin untuk ayam rambut setan dan oseng buncis sedikit overpriced dibanding yang lain, tapi saya pribadi sih tidak keberatan karena rasanya memang paling unik dan cukup enak. :D

No comments:

Post a Comment